Ini Mitos Keperawanan yang Perlu Anda Pahami

 Lady Fem
Ini Mitos Keperawanan yang Perlu Anda Pahami
Masalah keperawanan, masih diyakini oleh sebagian masyarakat di belahan dunia. Apalagi jika wanita yang ingin menikah atau akan menjalani malam pertama, sering ditanyakan apakah masih perawan atau tidak ?

Jika wanita diketahui telah kehilangan keperawanan nya sebelum ia menikah, maka ia seakan-akan di cap bersalah dan dapat dikucilkan dari lingkungan sekitarnya.

Seperti dilansir dari laman Bedsider, Senin (30/1/2017), Paula Hillard, profesor Obstetri dan Ginekologi dari Stanford University School of Medicine, California, Amerika Serikat menjelaskan mengenai mitos keperawanan.

Baca juga : 


1. Selaput dara harus sobek ketika pertama kali berhubungan seks. 

Mitos terbesar mengenai keperawanan adalah mengenai selaput dara yang rusak ketika seorang wanita pertama kali melakukan hubungan seks. Keluarnya darah, menandakan jika ia masih perawan.

Pada masa lalu, beberapa budaya menguji keperawanan wanita dari sprei yang berdarah di ranjang, hal ini untuk menunjukan jika sang wanita muda masih perawan.

Namun, pada kenyataannya, banyak wanita yang selaput daranya tidak sobek atau berdarah ketika pertama kali melakukan hubungan seks. Hal ini karena, selaput dara memiliki sifat yang elastis.

Mitos ini menimbulkan kecemasan untuk beberapa wanita mengenai rasa sakit dan pendarahan ketika pertama kali melakukan hubungan seks, dan hal ini tentu akan membuat hubungan seks menjadi sulit.

Ketika seorang wanita terangsang, maka otot-otot di dekat mulut vagina dapat santai, hal ini membuat vagina mengeluarkan pelumas alami agar seks menjadi nyaman (walaupun Anda baru pertama kali melakukannya).

Cemas mengenai rasa sakit, dapat menyebabkan ototo-otot menjadi tegang dan kurang pelumasan, hal ini dapat menyebabkan rasa sakit atau pendarahan.

2. Perawatan kesehatan, dapat mengetahui selaput dara rusak atau tidak.

Mitos lainnya yang diyakini adalah, bahwa perawatan kesehatan secara profesional dapat mengetahui apakah wanita pernah atau tidak pernah melakukan hubungan seks dengan cara memeriksa selaput daranya.

Tapi, pada faktanya setelah mengalami pubertas, luka pada selaput dara yang mungkin jarang terjadi  karena perkosaan, tidak dapat diketahui oleh pemeriksaan perawatan kesehatan.

Hal ini karena, sebagian besar wanita memiliki selaput dara yang sangat elastis.

3. Penggunaan tampon dapat mempengaruhi keperawanan.

Penggunaan tampon (semacam pembalut) yang dapat mempengaruhi keperawanan mungkin jarang terdengar. Hal ini berbeda dengan pembalut yang biasa digunakan, tampon dimasukan ke dalam vagina.

Tampon tipis diyakini dapat mempengaruhi pembukaan selaput dara septate (septate hymen) dan selaput dara yang sangat kecil, selaput dara microperforate ( microperforate hymen).

Sekitar satu, dari dua ribu anak perempuan, mengalami selaput dara yang tidak mengalami pembukaan, hal ini disebut dengan selaput dara imperforata. Hal ini dapat menyebabkan nyeri bulanan yang terjadi setelah waktu menstruasi pertama ( rata-rata usia 12 tahun sampai 12,5 tahun) dan tidak ada pendarahan menstruasi.

Untuk itu, ide yang baik untuk Anda, agar berfikir ketika memutuskan untuk menggunakan tampon.

4 Pemeriksaan ginekologi dapat mempengaruhi keperawanan.

Faktanya, tes ginekologi adalah tes kesehatan secara menyeluruh, bukan tes untuk seks saja. Pemeriksaan alat kelamin eksternal ini, direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics sebagai tes rutin dari perawatan kesehatan untuk anak-anak dan remaja.

Tes pap smear ini adalah untuk mendeteksi sel prakanker dari leher rahim yang biasanya melibatkan penggunaan alat, yang disebut dengan spekulum pada dinding selaput dara yang elastis dan vagina. Pada umumnya disarankan dimulai pada usia 21 tahun.

Pemeriksaan spekulum kemungkinan diperlukan sebelum usia 21 tahun bila ada gejala atau masalah tertentu.

5. Pasangan seks dapat mengetahui, apakah wanita masih perawan.

Pada mitos nomor dua, disebutkan jika dokter kandungan yang berpengalaman saja, tidak dapat mengatakan jika seorang wanita telah melakukan hubungan seks. Lalu, bagaimana caranya pasangan dapat mengetahui apakah sang wanita masih perawan ?

Sebenarnya, pasangan tidak dapat mengetahui apakah sang wanita masih perawan atau tidak secara langsung. Tapi wanitalah yang harus bersikap terbuka dengan pasangannya mengenai sejarah seksual Anda.

Keterbukaan ini dapat membangun kepercayaan sekaligus dapat membuat Anda sehat dan bahagia


Terima kasih telah membaca artikel : Ini Mitos Keperawanan yang Perlu Anda Pahami Semoga bermanfaat

Apakah anda mengalami Ejakulasi Dini ? Baru sebentar udah Keluar ?
Ingin lebih tahan Laaama ketika bercinta ? Ingin Memuaskan Istri anda ?


close
Foredi